Kamis, 03 Desember 2009

KEPALA SEKOLAH IDAMAN

Oleh :Saepuloh Nawawi

Saat kepala sekolah itu muncul, anak-anak berhampuran menghampiri.
“bu … “ begitu mereka bertertiak. Kalau kita menyaksikan secara lansung, tampak suasana begitu indah dan menyentuh. Ini baru kepala sekolah yang hebat pikurku.
Saat kepala sekolah itu memasuki gerbang sekolah, tampa ragu menyalami semua anak yang ada depan sekolah.
“ Assalamu’alaiku anak-anak, apa khabar…. Wah kamu rapi sekali.
Anak yang disapa akan tersenyum bahagia. Wah ini baru kepala sekolah pikirku.
Kepala sekolah ini memang lura biasa. Dengan bergegas ia langsung masuk ke ruang kerjanya dan langsung kembali kepintu gerbang. Rupanya ia berdiri dan menyambut kedatangan siswa dan guru. Hebat juga, kepala sekolah ini. Datang selalu lebih pagi dari siapapun. Office boy saja kalah. Senyum yang penuh kelembutan dan sapaan yang ramah menjadikann semua orang segan, bukan takut.
Saat kepala sekolah berada disekeliling siswa, siswa sangat senang. Saat berada diantara guru-guru, guru-guru merasa senang. Ini kepala sekolah yang hebat pikirku.
Rupanya hari itu hari senin, saat upacara bendera. Semua anak dan guru berbaris tertib. Kenapa ya.., wah luar biasa, kepala sekolah sudah berdiri diatara meraka. Saat menjadi Pembina, kepala sekolah selalu mengucapkan terima kasih dengan dengan kebaikkan yang dilakukan siswa dan teman kerjanya. Ini baru kepala sekolah yang hebat pikurku.
Ketika semua murid sudah masuk kelas, Kepala sekolah ini tidak buru-buru masuk ruangannya yang dingin dan mengasyikan. Dingin karena ber AC dan mengasyikan karena ada banyak fasilitas. TV, Kulkas kamar mandi. Tapi kepala sekolah ini selalu berkeliling sekolah, melihat anak-anak belajar atau duduk di dalam kelas sekalipun hanya 5 menit. Menyapa siswa dan guru yang mengajar. Mungkin semacam supervisi, tapi guru tidak pernah menjadi beban. Ini baru kepala sekolah yang hebat pikurku.
Saat istirahat tiba, semua anak menuju kantin sekolah. Kantin yang sejuk dibawah pohon rindang. Kantin yang sehat yang selalu terjaga kebersihannya. Hari itu kepala sekolah juga pergi ke kantin.
“ Ibu … anak-anak berhamburan menyalami. Pemandangan yang islami dan indah. Ini baru kepala sekolah yang hebat pikurku.
Saat kepala sekolah bertemu orang tua. Terlihat sekali orang tua begitu senang. Kenapa ya. Pasti ada kepribadian yang baik yang dimilki kepala sekolah. Ini baru kepala sekolah yang hebat pikurku.
Tapi tidak semua sekolah memiliki kepala sekolah yang seperti itu. Sayang sekali. Bahkan ada dibeberapa sekolah. Kepala sekolah sangat ditakuti oleh anaknya. Kangkala dijadikan bahan untuk menakuti siswa. Kasian sekali.
Kenapa kepala sekolah cenderung ibu-ibu ya, mungkin karena ibu-ibu jauh lebih dekat dengan anak-anak dan lebih mengerti perasaan anak. Bagaimana dengan perempuan atau ibu yang tidak disukai anak-anak. Pasti ada kepribadian yang keliru. Atau tidak cocok untuk menjadi kepala sekolah idaman. Waallahu’alam

Senin, 16 November 2009

SIAPA YANG MEMBENTUK AKHLAQ ANAK ?

By: Saepuloh Nawawi

Konsukwensi dari kesibukan orang tua terhadap anak akan terlihat dari prilaku keseharian anak. Coba perhatikan perilaku anak sekarang. Perhatikan saja, kita akan semakin mengerti seberapa besar pengaruh orang tua terdapa perilaku anak dan seberapa besar perilaku pembantu juga berpengaruh terhadap perilaku anak-anak.
Orang tua jangan terlalu terkejut ketika anaknya mengucapkan dengan bahasa yang tidak pantas. Jangan buru-buru memvonis. Karena bisa jadi ucapan itu sering diucapkan orang tua tanpa mereka sadari. Kalau orang tua tidak merasa dan tidak pernah mengucapkan kata yang tidak pantas, coba teliti ulang, bisa jadi ucapan tak pantas sering muncul disaat emosi tidak terkendali. Biasanya saat marah kata tak pantas akan keluar dengan sendirinya.
Orang tua jangan terkejut dengan kelakuan anak yang tidak pantas. Menurut kita tidak berakhlaq. Jangan juga memvonis anak, mungkin juga akhlaq kita tidak jauh lebih baik dari anak-anak kita. Kalalu terjadi seperti ini, caranya mudah, orang tua tinggal memperbaiki diri saja gampangkan.
Persoalan akan muncul manakala orang tua akhlaqnya sangat mulia. Tetapi anak-anak tidak. Bagaimana ? Sebelum memberi penilaian, coba lihat keseharian anak-anak kita. Anak kita lebih sering diasuh oleh siapa.
Bisa jadi lebih banyak diasuh acara televisi, diasuh pembantu, diasuh tetangga, diasuh nenek atau orang tua atau siapa ? Siapa yang mengasuh anak-anak disaat orang tua bekerja. Bekerja dari pukul 06.00 sampai pukul 20.00. Bayangkan. Bisa jadi kita hanya telalu peduli dengan mainan mereka. Hanya peduli dengan uang jajan mereka. Tetapi tidak pernah menyadari dengan siapa mereka diasuh.
Rumah yang berakhlaq akan melahirkan anak berakhlaq mulai. Siapa yang tinggal dirumah ? pembantu, tukang kebun, tukang cuci, tukang masak atau siapa?. Tanyakan pada diri kita masing-masing.

Sabtu, 05 September 2009

MASUKAN ATAU KRITIK

Sesaat aku merenung tak mengerti. Apa maksud dari sumua peristiwa ini. Mengapa teman-teman bisa terpengaruh oleh propokasi yang kekanak-kanakan. Musibah, begitu temannku bilang. Nasi sudah menjadi bubur.

Kejadian dari undangan seorang teman untuk sama-sama memberikan masukan terbaik bagi pendidikan. Emosial education akan selalu muncul manakala terusik dengan adanya ketidak cocokan antara teori dan praktek. Atau ada praktek yang tidak sejalan menurut pemahaman kita.

Menjadi pendidik memang bukan pekerjaan mudah. Sorotan akan cepat tertuju ketika ada kekelirauan yang dianggak tidak pantas oleh praktisi pendidikan, sekalipun hal tersebut sangat biasa dan wajar dalam komunitas lain. Entah jebakan atau kesialan, yang jelas teman-teman saat ini sedang menunggu, kira-kira apa hasil yang akan dicapai.

Menjadi kritis itu baik, tetapi bagi orang yang sensitif masukan saja akan dianggap kritik, apa lagi mengkritik bisa dianggap sebagai ketidak setujuan. Menjadi manusia baik, seharusnya mencari tahu dari sebuah aksi. Aksi apapun jangan terlalu cepat direspon dengan perlawanan. Banyak orang yang memiliki keinginan untuk maju dan sayang dengan institusi, justru banyak memberikan kritik membangun. Kesalahpahaman sering muncul karena kurangnya memahami psikologi masa dan tidak pernah belajar mendalami pribadi orang lain. Di Indonesia memang begini, saking terlalu banyaknya suku bangsa, karakter manusianya pun berbeda.

Teman-teman terbaikku, bila yang kalian jalani itu benar,yakinlah pasti ada jalan keluar yang terbaik. Kalaupun ada peristiwa terpahit sekalipun, pasti akan ada yang lebih baik, hanya masalah waktu.

Minggu, 01 Maret 2009

CARIUKU








Bila nama di atas terasa asing, no problem, yang penting saya tahu persis dengan dua nama tersebut. Lahir, besar, main, belajar ya disitu. Cariu berapa di wilayah paling timur di kabupaten Bogor, berbatasan dengan empat kabupaten, Karawang, Bekasi, purwakarta dan Cianjur. Ibarat permata yang diapit oleh perbedaan administratif, tetapi satu budaya,satu kebiasaan dan sama-sama berbahasa sunda tentunya. Kalai tidak ada Cariu, Bogor kurang sempurna. Kenapa dulu di kasi nama Cariu,nggak ada legendanya. Kasihan ya..

Kalau belum ke Cariu, jalan termudah, biar tidak pusing, dari pamulang, ke rumah saya. Nanti saya anterin, ongkos dan makan situ yang tanggung.

Kalau mau sulit. Dari Terminal Kampung Rambutan, naik bis Rambutan – jonggol. Dari jonggol sekali lagi naik angkot tujuan Cariu. Boleh juga dari Rambutan naik bis jurusan Bandung, Tasik, Garut, Banjar, Majalengka, apa lagi ya.., pokoknya yang lewat jalan alternatif cibubur. Turun di Cariu. Mudah banget.

Sebenarnya dari pamulang, kebetulan saat ini di Pamulang, kalau mau ke Cariu, memang jauh. Pake motor paling-paling dua jam. Kok jauh, karena melewati tiga provinsi, Banten, Jakarta dan Jawa barat. Keren abis deh.

Belum lagi daerah wisata sepanjang jalan. Kota legenda, kota wisata, kampung cina, taman buah mekar sari dan pasar kambing di jonggol.

Cibeet hanya sungai yang mengalir dari mulai cianjur sampai karawang, menuju purwakarta. Keindahan dan kebeningan cibeet sudah nyaris hilang karena sungai tidak terawat. Pengalian pasir di perbatasan cianjur merupakan pemandangan sehari-hari. Makanya kalau beli pasir harganya mudah, harap maklum saja.

Ikan yang dulu begitu mudah ditemukan, kini tinggal kenangan. Udang aja sudah males hidup, paling keong mas yang merusak padi dan beberapa jenis ikan yang masih setia. Mandi saja kurang nyaman. Mau nyaman gimana, airnya tidak sebening dulu, banyak yang lihat lagi malu dong.

Untungnya sawah masih terhampar (kayak tiker aja). Katanya, nggak tahu kata siapa, just gossip, pihak pemda masih mengingikan cariu sebagai salah satu lumbung padi di kabupaten Bogor. Tapi kalau pupuknya mahal, kapan petani bisa menikmati hasil panen.

Lama juga tidak berlari-lari dipematang sawah, dulu bisa lincah, sekarang jatuh melulu. Entah kegemukan, ketuaan atau memang nggak bisa.

Syukur babe punya sawah, jadi ngerti dikit soal padi, biarpun belum paham. Syukur juga babe punya warung, jadinya setiap pulang sekolah nunguin warung, bukan nyawah sepeti yang lainnya.

Hari ini sudah berbeda, Cariu dan Cibeet sudah berubah. Pulang kampung hanya kenal dengan kerabat dan orang tua angkatan Babe. “A... kamana wae nembe katingali” (kemana saja baru kelihatan). Pemuda yang dulu senang dengan kegiatan kemasyarakatan yang bercorak kebersamaan, tinggal mimpi (mimpi kali...). Di pasar depan rumah,ojek sulit dihitung. Saking banyaknya pemuda yang bingung mau ngerjain apa. Kasian juga lihat pemuda di cariu. Bukannya nggak bisa sekolah sampai tinggi, tetapi tidak mampu dengan biayanya. Ada yang mampu,nggak mau sekolah. Ada yang mau sekolah,nggak mampu. Repot… repot….

Syukur babe mau menyekolahkan sampai sarjana. Biar sulit dan ngirit yang penting jalan. Bagaimana mau kenal kampung halaman, dari SMA sampai sekarang jauh dari rumah. Di kampung orang malah dapat kerjaan, dapat istri, dapat anak, cicil rumah sampai kendaraan. Kalau pulang kampung, bingung juga mau ngapain.

Syukur sekarang ada penakaran rusa di Cariu, agak terkenal dikitlah. Syukur dulu mau ada proyek jonggol. Biarpun nggak jadi. Jaringan telepon di cariu areanya 021. Parung aja 0251, padahal dari parung Cuma ratusan ribu centimeter.

Untung masih ada adik yang mau disawah, jadi kalau pulang masih bisa ajak anak lihat sawah, main di sawah, nanam padi, ngeliat sapi, dilihat sapi, gratis lagi. Sekarang lihat sawah aja bayar. Di wisata pulang kampung, bayar. Di pasir mukti, bayar. Kalau dipikir-pikir jadi orang kota norak juga. Di Cariu pernah ada anak dari Jakarta selatan pada nongkrong Cuma lihat kebo. Padahal di sana lihat kebo biasa aja. Itulah hidup,makanya jangan menorakkan orang lain.