Bila nama di atas terasa asing, no problem, yang penting saya tahu persis dengan dua nama tersebut. Lahir, besar, main, belajar ya disitu. Cariu berapa di wilayah paling timur di kabupaten Bogor, berbatasan dengan empat kabupaten, Karawang, Bekasi, purwakarta dan Cianjur. Ibarat permata yang diapit oleh perbedaan administratif, tetapi satu budaya,satu kebiasaan dan sama-sama berbahasa sunda tentunya. Kalai tidak ada Cariu, Bogor kurang sempurna. Kenapa dulu di kasi nama Cariu,nggak ada legendanya. Kasihan ya..
Kalau belum ke Cariu, jalan termudah, biar tidak pusing, dari pamulang, ke rumah saya. Nanti saya anterin, ongkos dan makan situ yang tanggung.
Kalau mau sulit. Dari Terminal Kampung Rambutan, naik bis Rambutan – jonggol. Dari jonggol sekali lagi naik angkot tujuan Cariu. Boleh juga dari Rambutan naik bis jurusan Bandung, Tasik, Garut, Banjar, Majalengka, apa lagi ya.., pokoknya yang lewat jalan alternatif cibubur. Turun di Cariu. Mudah banget.
Sebenarnya dari pamulang, kebetulan saat ini di Pamulang, kalau mau ke Cariu, memang jauh. Pake motor paling-paling dua jam. Kok jauh, karena melewati tiga provinsi, Banten, Jakarta dan Jawa barat. Keren abis deh.
Belum lagi daerah wisata sepanjang jalan. Kota legenda, kota wisata, kampung cina, taman buah mekar sari dan pasar kambing di jonggol.
Cibeet hanya sungai yang mengalir dari mulai cianjur sampai karawang, menuju purwakarta. Keindahan dan kebeningan cibeet sudah nyaris hilang karena sungai tidak terawat. Pengalian pasir di perbatasan cianjur merupakan pemandangan sehari-hari. Makanya kalau beli pasir harganya mudah, harap maklum saja.
Ikan yang dulu begitu mudah ditemukan, kini tinggal kenangan. Udang aja sudah males hidup, paling keong mas yang merusak padi dan beberapa jenis ikan yang masih setia. Mandi saja kurang nyaman. Mau nyaman gimana, airnya tidak sebening dulu, banyak yang lihat lagi malu dong.
Untungnya sawah masih terhampar (kayak tiker aja). Katanya, nggak tahu kata siapa, just gossip, pihak pemda masih mengingikan cariu sebagai salah satu lumbung padi di kabupaten Bogor. Tapi kalau pupuknya mahal, kapan petani bisa menikmati hasil panen.
Lama juga tidak berlari-lari dipematang sawah, dulu bisa lincah, sekarang jatuh melulu. Entah kegemukan, ketuaan atau memang nggak bisa.
Syukur babe punya sawah, jadi ngerti dikit soal padi, biarpun belum paham. Syukur juga babe punya warung, jadinya setiap pulang sekolah nunguin warung, bukan nyawah sepeti yang lainnya.
Hari ini sudah berbeda, Cariu dan Cibeet sudah berubah. Pulang kampung hanya kenal dengan kerabat dan orang tua angkatan Babe. “A... kamana wae nembe katingali” (kemana saja baru kelihatan). Pemuda yang dulu senang dengan kegiatan kemasyarakatan yang bercorak kebersamaan, tinggal mimpi (mimpi kali...). Di pasar depan rumah,ojek sulit dihitung. Saking banyaknya pemuda yang bingung mau ngerjain apa. Kasian juga lihat pemuda di cariu. Bukannya nggak bisa sekolah sampai tinggi, tetapi tidak mampu dengan biayanya. Ada yang mampu,nggak mau sekolah. Ada yang mau sekolah,nggak mampu. Repot… repot….
Syukur babe mau menyekolahkan sampai sarjana. Biar sulit dan ngirit yang penting jalan. Bagaimana mau kenal kampung halaman, dari SMA sampai sekarang jauh dari rumah. Di kampung orang malah dapat kerjaan, dapat istri, dapat anak, cicil rumah sampai kendaraan. Kalau pulang kampung, bingung juga mau ngapain.
Syukur sekarang ada penakaran rusa di Cariu, agak terkenal dikitlah. Syukur dulu mau ada proyek jonggol. Biarpun nggak jadi. Jaringan telepon di cariu areanya 021. Parung aja 0251, padahal dari parung Cuma ratusan ribu centimeter.
Untung masih ada adik yang mau disawah, jadi kalau pulang masih bisa ajak anak lihat sawah, main di sawah, nanam padi, ngeliat sapi, dilihat sapi, gratis lagi. Sekarang lihat sawah aja bayar. Di wisata pulang kampung, bayar. Di pasir mukti, bayar. Kalau dipikir-pikir jadi orang kota norak juga. Di Cariu pernah ada anak dari Jakarta selatan pada nongkrong Cuma lihat kebo. Padahal di sana lihat kebo biasa aja. Itulah hidup,makanya jangan menorakkan orang lain.
Minggu, 01 Maret 2009
CARIUKU
Kamis, 19 Februari 2009
SKALAPRIORITAS
By :Aep Nawawi al-Bogory
Apa yang harus didahulukan pada kasus di bawah ini :
Di sebuah pabrik terdapat aturan bahwa buruh pabrik tidak boleh masuk ke dalam ruangan sebelum mengisi absen. Di dalam ruangan terdapat banyak fasilitas diantaranya ruang kerja, Klinik untuk karyawan, kantor serta kamar kecil. Seorang buruh bernama Bang Apes akan mengisi absen, tiba-tiba Ia kejatuhan benda keras hingga berdarah dan pingsan pula . Apa yang harus pertama kali dilakukan ?
Bang Apes dibangunkan/disadarkan untuk mengabsen kemudian ke klinik
Bang Apes dibawa ke klinik di luar pabrik, tidak boleh ke klinik dalam pabrik karena belum absen
Dibawa masuk sekalipun belum absen
Bila mengikuti SOP atau sejenisnya entah aturan yang berlaku, maka Bang Apes mau tidak mau harus mengikuti petunjuk A yaitu Bang Apes dibangunkan/disadarkan untuk mengabsen kemudian ke klinik.
Akan tetapi itu tidak mungkin dan tidak bisa dipaksakan dia harus disadarkan. Bagaimana ternyata tidak sadar-sadar. Dalam kondisi yang sangat darurat, maka yang paling tepat adalah pilihan C dibawa masuk sekalipun belum absent. Apakah itu melanggar aturan. Betul dari sisi aturan itu melanggar, tetapi dari sisi prioritas, harus dilakukan karena menyangkut nyawa manusia.
Contoh lain ketika di perusahaan X sedang diadakan rapat. Pemimpin rapat mengatakan bahwa peserta rapat tidak boleh keluar sampai acara selesai. Pak Yadi menjadi salah satu peserta rapat. Selama satu jam rapat berjalanlancar. Satu jam kemudian perut pak Yadi sakit karena ingin BAB, Ia mules bukan main karena sebelum berangkat makan nasi uduk pedas buatan istinya. Tidak enak kalau tidak dimakan, buatan istri sendiri. Keringat bercucuran karena pules yang semakin hebat. Pelan-pelan ia mendekati pimpinan dan mengatakan ia ingin kebelakang karena mules. Pimpinan menolak, karena sesuai aturan peserta tidak boleh keluar sebelum acara selesai. Akibatnya Pak Yadi harus menahan dengan sekuat tenaga. Tak lama kemudian Pak Yadi terjatuh dan pingsan, dengan aroma tak sedap keluar dari celanannya (maaf agak jorok). Peserta rapat terkejut dan keluar ruangan tanpa ada yang menyuruh keluar termasuk pimpinan. Mereka melanggar aturan tanpa mereka sadari.
Siapa yang salah ? yang salah adalah orang yang tidak belajar memahami skala prioritas. Terlalu kaku dengan aturan yang berlaku, tanpa melihat sisi yang lain. Orang yang memiliki prilaku seperti pimpinan di atas pelan tapi pasti akan ditinggalkan oleh penggemarnya.
Skala prioritas itu penting lebih memahami mana yang perlu didahulukan. Ada empat skala prioritas yang harus dipahami agar kita tidak terjebak pada kekakuan dengan aturan yang kita buat sendiri.
Skala prioritas :
Penting,mendesak
Mendesak, tidak penting
Penting, tidak mendesak
tidak penting, tidak mendesak
Untuk dua kasus diatas bisa masuk kategori tidak penting, tapi sangat mendesak.
Pemimpin yang bijak akan memahami skala diatas sebagai acuan dalam memutuskan perkara. Termasuk di dalamnya kebijakan-kebijakan darurat.
Bisakah kita memahami skala prioritas. Tergantung, tergantung egoisme kemanusiaan dan estetika kehidupan yang dipahami. Sedih rasanya bila ada manusia yang mengaku cerdas tapi tidak memahami skala prioritas seperti di atas.
Selasa, 10 Februari 2009
gesper guru
GESPER SANG GURU
Aku punya teman, sebut saja namanya Ajat Suajat. Orangnya asik, cerdas dan menyengangkan. Pakaian oke, sepatu oke, potongan oke, tapi itu loh gespernya. Gesper atau ikat pinggangnya lubangnya banyak banget. Saya sempat tanya, ini gesper apa gesper. Dia bilang gesper, oh ternyata gesper.
Kalau dihitungdan diteliti dengan seksama, jumlah lubang gespernya lebih dari 20 lubang. Padahal dalam aturan pergesperan yang dibuat terdapat dalam undang-undang pembuatan gesper, gesper hanya memiliki sedikirnya 5 lubang. Posisi ke tiga jadi patokan. Kalau agak kurus pake yang pertama, agak gemuk pake yang kelima. Jadi kalau lebih dari 20 lubang. Kapan dia kurus dan bagaimana kalau dia gemuk. Cukup bingung juga memahami si gesper ini.
Dalam tidur saya bermimpi bertemu dengan si gesper ini, ternyata dia bisa bicara dalam bahasa geper. Dan menjelaskan mengapa memiliki lubang lebih dari 20 lubang. Dia bilang, aku sudah digunakan sejak Ajat Suajat masih remaja. Saat itu Aja suajat mengunakan lubang yang ke tiga. Dia bukan tidak mau membeli gesper, uang yang dia miliki digunakan untuk hal yang lebih besar dan lebih penting, samapi lupa dengan gespernya sendiri. Katanya lagi, Aku sudah ingin diganti, malu sama gesper-gesper yang lain.
Ajat Suajat kebetulan seorang guru di sekolah SD Antah Brantah. Sempat ikut PNS dan lulus, tapi dikucilkan oleh pemilik sekolah. Karana pemilik sekolah aja nggak lulus, kok dia lulus. Sekarang dia sudah bahagia. Yang dilakukan pertama kali setelah lulus adalah menganti gesper, kenapa, karena gesper yang dia pake sudah putus akibat terlalu lama dipake.
Ajat Suajat merasa bersyukur, gespernya putus dengan sendirinya. Kalau tidak pasti dia tidak akan beli gesper baru , loh.
Jadi Guru seperti pak Ajat Suajat memang tidak gampang. Harus selalu menjaga menampilan sekalipun dengan penuh kesederhanaan. Kadang pak Ajat tidak bisa memaksimalkan penampilan, karena harus memmenuhi kebutuhan yang lebih urgen. Gesper hanya salah satunya. Untungya semua murid di SD Antah Berantah, tidak mempersoalkan gesper, mereka lebih peduli pada mutu pendidikan.
Selasa, 03 Februari 2009
SENYUMAN
Senyum itu gampang, tetapi senyuman yang tulus tidak segampang yang dibayangkan. Ketulusan bukan dari bibir, tetapi dari hati yang paling dalam. Dari hati yang penuh cinta kasih, dari hati yang ingin membahagiakan orang lain. Dari hati yang tidak ingin merendahkan orang lain, Dari hati yang ikhlas untuk menjalin silaturrahmi, tampa balasan.
Orang yang selalu tersenyum akan sering diingat, mudah untuk dikenang dan sulit untuk dilupakan. Coba saja kita tidak pernah tersenyum dalam beberapa hari, pasti tidak akan ada yang mau berteman.
Saat bercermin lihatlah wajah kita, apakah wajah yang menyenangkan atau wajah yang menyebalkan. Ketampanan dan kecantikan bukan jaminan kita enak dipandang. Kecerdasan dan kejeniusan bukan jaminan kita disukai orang lain. Tanpa senyuman semuanya terasa hambar. Senyum adalah penyedap yang maha dahsyat.
Manusia yang tidak pernah tersenyum selalu masuk dalam kategori kesombongan. Sekalipun tidak bermaksud sombong, kesan sombang akan muncul dalam benak siapapun yang melihatnya.
Tidak bisa tersenyum karena alasan karakter (sudah dari sananya), itu kekeliruan yang sangat besar. Karakter buruk bukan untuk dibiarkan. Rubah sekarang juga. Kalau bangga dengan karakter buruk, berarti tidak yang dengan konsep adanya perubahan menjadi lebih baik.
Kalau tidak merubah karakter diri menjadi lebih baik, bagaimana mungkin merubah karakter orang-orang disekeliling kita. Yakinlah Allah Maha Baik, Maha Merubah menjadi lebih baik bila kita mau.