Kamis, 24 November 2011

MENJADI WAYANG YANG CERDAS

By : aep Saepuloh Nawawi Mendengar kata wayang pasti terbayang wayang golek, wayang kulit atau wayang orang. Kita hidup tak ubahnya sepeti wayang. Coba perhatikan ketika wayang dimainkan. Dalanglah yang berkuasa. Wayang-wayang tidak kemampuan melakukan apapun. Mungkin agak berbeda ketika melihat wayang dalam opera van java, wayang-wayangnya bisa melawan dalang dan membuat sesuai yang berbeda dengan sekenario (seolah-olah begitu), padahal itulah sekenarionya. Tetapi pada dasarnya hidup para wayang diatur dan cenderung tidak bisa berpikir. Hidup sehari-hari manusia banyak yang berprilaku seperti wayang-wayang tadi, bila tidak digerakan dia diam. Tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Kadang kasian melihatnya. Kadangkala itu terjadi dalam dunia pembentukan karakter. Ketika kita menjadi aktor pembentukan karakter, harus bergerak seperti dalang, menyusun sekenario, menyiapkan para sinden, mengatur tokoh secara berurutan agar mudah dimainkan. Saya mulai terheran-heran bila banyak pemimpin yang tidak ubahnhya seperti wayang, manut, nurut, taat tanpa berpikir untuk melakukan sesuatu. Disuruh apa saja mau, suruh nyeburpun mau. Kehidupan di jaman sekarang ini prilakuk wayang banyak terjadi hamper di semua kehidupan. Jaksa, pengacara bahkan mungkin presiden. Yang menjadi dalang ya yang punya uang. Terserah dalang dong… ada-ada saja.